Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyediaan alat diagnostik molekuler cepat (TCM), peningkatan jejaring laboratorium, hingga penguatan sistem pelaporan melalui SITB. Namun demikian, masih banyak kasus TB yang terlambat ditemukan atau bahkan tidak terdiagnosis.

Selama ini perhatian sering difokuskan pada keterbatasan sarana diagnostik, akses pelayanan, maupun kepatuhan pasien. Padahal terdapat faktor lain yang sering luput dari perhatian, yaitu proses berpikir klinis tenaga medis saat menghadapi pasien. Dalam ilmu psikologi kognitif, kondisi ini dikenal sebagai availability bias dan diagnostic inertia.

Dokter Sudah Memiliki Pengetahuan tentang TB

Penting untuk dipahami bahwa hampir seluruh dokter telah memperoleh pendidikan mengenai TB sejak masa kuliah kedokteran. Mereka memahami gejala klasik, pemeriksaan penunjang, hingga tata laksana penyakit tersebut.

Permasalahan sebenarnya bukanlah kurangnya pengetahuan (knowledge gap), melainkan berkurangnya kewaspadaan diagnostik (diagnostic awareness) ketika menghadapi pasien dengan manifestasi yang tidak khas.

TB merupakan penyakit yang dikenal sebagai The Great Imitator. Manifestasinya dapat menyerupai berbagai penyakit lain sehingga mudah terlewat apabila tidak secara aktif dipertimbangkan dalam diagnosis banding.

Availability Bias dalam Praktik Klinis

Availability bias adalah kecenderungan seseorang untuk lebih mudah mengingat atau mempertimbangkan diagnosis yang paling sering ditemui atau yang paling mudah muncul dalam ingatan.

Sebagai contoh:

  • Dokter penyakit dalam lebih dahulu mempertimbangkan demam tifoid dibanding TB pada pasien demam berkepanjangan.
  • Dokter anak lebih dahulu berpikir malnutrisi dibanding TB pada anak dengan berat badan sulit naik.
  • Dokter obstetri dan ginekologi lebih dahulu mempertimbangkan keganasan ovarium dibanding TB peritoneum pada pasien dengan asites.
  • Dokter THT lebih dahulu mencurigai limfoma dibanding limfadenitis TB.

Seluruh diagnosis tersebut benar dan rasional. Namun apabila TB tidak ikut dipertimbangkan dalam proses berpikir klinis, maka peluang menemukan kasus menjadi semakin kecil.

Diagnostic Inertia

Selain availability bias terdapat pula fenomena diagnostic inertia, yaitu kecenderungan mempertahankan diagnosis awal meskipun telah muncul informasi baru yang seharusnya mengarahkan pada kemungkinan penyakit lain.

Akibatnya pemeriksaan diagnostik TB baru dilakukan setelah berbagai terapi gagal memberikan perbaikan, sehingga diagnosis menjadi terlambat dan risiko penularan meningkat.

Meningkatkan Clinical Awareness, Bukan Mengajarkan Ulang TB

Berdasarkan pengalaman implementasi di rumah sakit, pendekatan yang paling efektif bukanlah mengulang teori TB kepada dokter, melainkan mengembalikan TB ke dalam radar berpikir klinis sehari-hari.

Pendekatan ini dapat dilakukan melalui:

  • pengingat klinis (clinical reminder);
  • diskusi kasus;
  • umpan balik data penemuan kasus;
  • regulasi rumah sakit;
  • audit klinis; dan
  • dashboard indikator.

Tujuannya bukan meningkatkan pengetahuan dasar, tetapi mempertahankan clinical awareness sehingga TB tetap menjadi salah satu diagnosis banding yang selalu dipertimbangkan ketika ditemukan pola klinis tertentu.(dr. A. Dwi Budi Satrio, M.Kes.)